GTTC Article

Kenapa Gen Z Dianggap "Susah Dipahami" di Tempat Kerja?

GTTC Admin GTTC
Sep 03, 2026 1 week ago
Share:
Kenapa Gen Z Dianggap "Susah Dipahami" di Tempat Kerja?

Istilah "Gen Z susah dipahami" belakangan sering muncul di berbagai obrolan seputar dunia kerja. Tapi benarkah generasi ini benar-benar sulit dipahami, atau justru perusahaan yang belum menyesuaikan cara pandang lama dengan ekspetasi baru? Sejumlah riset terbaru menunjukkan bahwa yang terjadi bukan soal generasi yang "rewel", melainkan pergeseran nilai yang cukup mendasar tentang makna bekerja itu sendiri.

Deloitte 2025 Gen Z and Milenial Survey, yang melibatkan lebih dari 23.000 responden global termasuk 535 dari Indonesia, menemukan bahwa jabatan tinggi bukan lagi tujuan utama generasi muda dalam berkarier. Banyak dari mereka justru memilih pekerjaan dengan tanggung jawab moderat namun stabil, dibanding posisi tinggi dengan tuntutan berlebihan (Suara.com, 2026). Meski begitu, kebutuhan ekonomi tetap jadi pertimbangan penting, survei yang sama mencatat 34 persen Gen Z dan 33 persen finansial sebagai tujuan karier paling utama.

Yang menarik, riset ini juga mengungkap adanya kesenjangan dalam relasi dengan atasan. Sekitar 72 persen Gen Z berharap mendapat bimbingan nyata dari pimpinan, tapi hanya sekitar separuh yang merasa benar-benar mendapatkannya. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa budaya manajerial di banyak perusahaan masih beriorientasi pada target dan teknis, belum banyak berperan sebagai mentor bagi pekerja muda.

Gen Z tumbuh dengan kesadaran yang tinggi terhadap kesehatan mental, dan hal ini terbawa langsung ke cara mereka memandang pekerjaan. Budaya kerja yang mendorong jam kerja berlebihan atau normalisasi burnout cenderung dijauhi, sementara perusahaan yang menawarkan dukungan kesehatan mental, cuti memadai, dan batas sehat antara kerja dan kehidupan pribadi justru lebih dilirik (BPMPP UMA, 2026). Bagi generasi ini, keseimbangan hidup bukan lagi benefit tambahan, melainkan ekspetasi dasar yang dianggap wajar ada sejak awal.

Kecenderungan Gen Z berpindah kerja dalam waktu relatif singkat, atau yang dikenal dengan istilah job hopping, sering disalahpahami sebagai bentuk ketidaksetiaan pada perusahaan. Padahal, sebuah kajian di jurnal eCo-Buss menemukan bahwa fenomena ini tidak melulu soal kenaikan gaji, melainkan juga dipengaruhi oleh pencarian makna kerja, ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja, dan keterbatasan peluang pengembangan diri (Prastia dkk., 2025). Kajian tersebut bahkan mengaitkan pola ini dengan fenomena quarter life crisis,  di mana pekerja muda dihadapkan pada kebimbangan antar bertahan atau berpindah karena rasa takut stagnasi.

Jadi, Siapa yang Sebenarnya Perlu Beradaptasi?

Dari berbagai temuan ini, terliat bahwa Gen Z tidak sedang menuntut hal yang berlebihan, melainkan mendefinisikan ulang apa yang dianggap wajar dalam relasi kerja seperti bimbingan yang nyata, batas yang sehat, dan ruang untuk berkembang. Perusahaan yang masih mengandalkan pendekatan lama mengutamakan loyalitas jangka panjang tanpa memberi dukungan yang setara berisiko kehilangan talenta muda lebih cepat dari yang diperkirakan. Pada akhirnya, memahami Gen Z bukan soal menuruti semua keinginan mereka, tapi soal menyesuaikan cara kerja lama dengan realitas angkatan kerja yang terus berubah.